
Makanan Nonya di Singapura memadukan berbagai pengaruh di kawasan Selat Malaka yang menjadi daerah kosmopolit sejak Raffles menemukan Singapura pada tahun 1819. Makanan Nonya berbeda dari makanan China atau melayu yang merupakan asal-usulnya. Bumbu-bumbu dan cara memasak local memberi pengaruh besar sementara cita rasa China ikut membentuk makanan Nonya. Bumbu-bumbu yang dipakai banyak yang juga digunakan dalam masakan Nusantara, antara lain empon-empon seperti laos, jahe, dan kunyit; daun-daunan seperti daun jeruk dan salam, sereh; dan bumbu-bumbu seperti kemiri, asam, bawang merah, dan putih, keluak, cabai dan terasi. Kadang digunakan juga belimbing sayur dan mangga muda untuk memberi rasa asam yang berbeda pada masakan. Salah satu resep ayam buah keluak menyebutkan, rasa daging keluak yang gurih itu didapat dari mencampurkan daging keluak yang tidak pahit dengan udang kupas yang sudah dihaluskan, lalu campuran itu dimasukkan lagi ke dalam cangkangnya. Mungkin ramuan yang sama itu juga yang disajikan di House of Peranakan Cuisine.
Kompas, 1 Oktober 2006, Hal 21
Delicious
Digg
Google
Yahoo
Technorati